PUKUL 18.00 WIB lewat, pemandu forum belum memegang mikrofonnya. Kursi-kursi besi yang berjejer di teras Lodji sedikit-sedikit mulai terisi, hanya satu dua yang masih ompong. Puluhan orang lain memilih berdiri di halaman, sambil mengobrol, bercerita dan bercanda seperti kawan yang sudah tak ketemu lama.
Tapi saat acara dimulai, perhatian mereka beralih ke titik yang sama, ke arah meja di depan. Tempat para pemantik acara A Tribute to Oei Hiem Hwie: Marga Oei yang 'Murtad' duduk. Mereka khidmat.
Pak Hwie —begitu kami biasa memanggilnya— punya peran besar dalam dunia sastra, khususnya karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Dialah yang membuat kita bisa membaca dan meresapi mahakarya Pram: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.
Ingatan Masa Kecil
Acara peluncuran buku dimulai dengan pembacaan puisi oleh Dimas Kuswantoro yang juga bertindak sebagai ketua pelaksana, kemudian dilanjutkan dengan cerita orang-orang terdekat. Salah satunya adalah Adi Sandika, anak pertama Hwie.
"Ini mengingatkan saya pada memori kecil," kata Adi.
Ingatannya lalu kembali ke puluhan tahun silam, saat dirinya masih anak-anak. Di banyak kesempatan, kata Adi, papanya sering bercerita soal cita-cita yang menurutnya tak lazim. Yakni membuka perpustakaan.
Adi kecil menyadari, papanya memang kerap menyimpan banyak buku, mengumpulkan surat kabar, koran, majalah, dokumen hingga arsip-arsip lain. Saat itu, ia tak tahu alasannya. Apa yang dilakukan papanya itu bahkan kerap diremehkan beberapa orang.
Pernah juga, dulu saat ia masih SD, buku koleksi papanya pernah ditawar seseorang dari Australia Rp1 miliar. Tawaran itu tentu menarik, sebab kala itu usaha papanya sedang menurun, sementara keluarganya sangat membutuhkan biaya sehari-hari serta untuk pendaftaran SMP-nya yang sudah dekat. Tapi Hwie menolak.
Bertahun-tahun berlalu ia akhirnya mengerti, arsip dan koleksi yang dikumpulkan papanya itu ternyata tak ternilai. Hwie berhasil mendirikan perpustakaan pada 2001. Adi pun bangga bukan main.
"Dulu saat saya kecil saya tidak pernah tau itu koleksi apa dan tujuannya apa, tapi ketika perpus sudah berdiri ternyata koleksinya ndak main-main," ucap Adi.
Cap PKI dari Orde Baru
Hwie, lahir di Malang 26 November 1935. Dia adalah anak kedua dari empat bersaudara di keluarga Tionghoa. Hwie muda merupakan jurnalis surat kabar Trompet Masjarakat yang berbasis di Surabaya.
Selain itu dia juga aktif dalam kegiatan-kegiatan di Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki). Baperki adalah organisasi massa yang dibentuk untuk menyatukan dan memperjuangkan hak etnis Tionghoa di Indonesia.
"Baperki itu semacam kristalisasi dari kelompok-kelompok organisasi 1950-an, ada dari kelompok kanan, ada yang netral, ada juga yang kiri," kata Peneliti Sejarah Arief W Djati yang juga hadir di acara malam itu.
Arief mengatakan di tahun-tahun itu, Hwie sedang aktif-aktifnya berkegiatan di Baperki Malang dan Surabaya. Ia juga mengikuti kuliah di Akademi Hukum dan Politik di Universitas Res Publica yang didirikan Baperki.
Tapi, masa-masa pembelajaran Hwie tersebut harus putus. Kudeta merangkak Soeharto yang disebut G30S mengakhiri semuanya. PKI, Baperki dan berbagai organisasi progresif diberangus, sekian juta orang dibantai, medio 1965-1966.
Arief menyebut, sebagai orang Baperki, Hwie pun juga sama. Dia diinterogasi tentara, ditahan, ditahan di penjara Kalisosok Surabaya, sampai dibuang ke Nusakambangan, hingga akhirnya diasingkan ke Pulau Buru selama 13 tahun.
"Pak Hwie ditangkap, Pak Hwie bukan anggota partai [PKI]. Dia sudah bilang anggota Baperki, tapi buat tentara sama aja," ucapnya.
Berkawan dengan Pram
Semasa di pengasingan itulah, Hwie bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer, salah satu tokoh penulis dan sastrawan paling berpengaruh di Indonesia. Hwie juga jadi orang penting yang berkontribusi pada terbitnya karya Pram yang fenomenal, Tetralogi Pulau Buru: Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985) dan Rumah Kaca (1988).
Pemerhati Sejarah Kuncarsono Prasetyo mengatakan, semasa diasingkan, sebagaimana tahanan politik (tapol) yang lain, Hwie sehari-hari menggarap ladang di sebelah gubuk yang dihuni Pram.
Karena itu, Pram, Hwie dan tahanan politik lain makin akrab dan sering terlibat obrolan. Tentu hal itu dilakukan sembunyi-sembunyi. Suatu ketika, saat Pram mulai menggarap Tetralogi Pulau Buru, ia kelupaan tentang detail sosok Tirto Adhi Soerjo. Hwie pun dimintai tolong.
"Pak Hwie pernah bercerita, di Pulau Buru dia bekerja berkebun di sebuah ladang sebelah gubuknya Pak Pram, Pak Hwie itu macul-macul, dia sering ngobrol sama Pak Pram, pada akhirnya Pak Pram merasa Pak Hwie amanah hingga suatu saat Pak Pram mau menulis tetralogi, dia lupa apa yang pernah dibacanya dulu tentang sejarah pergerakan periode awal," ujar Kuncar.
Pram kemudian meminta Hwie untuk mencari data detail yang menjelaskan tentang siapa sosok Tirto Adhi Soerjo, ke seorang Guru Besar Sejarah UI, yang saat sama-sama sedang diasingkan ke Pulau Buru. Jaraknya cukup jauh di sektor 5, ditempuh sehari perjalanan.
"Hwie, kata Pak Pram, 'coba paranono nak sektor 5, nang kono Guru Besar Sejarah UI, tanya siapakah Tirto Adhi Soerjo itu? Lahirnya dimana? anaknya siapa? sekolah dimana?'," kata dia menirukan cerita Hwie.
Pram pun meminta Hwie mengingat-ingat pertanyaannya itu, namun dia melarangnya untuk mencatat. Sebab ia takut kertas catatanya itu akan dirampas tentara di perjalanan nanti. Pesan yang sama juga wanti-wantikan, bila nanti Hwie sudah mendapatkan penjelasan dari sang guru besar di sektor lima.
Singkat kata, kata Kuncar, setelah menempuh perjalanan sehari menuju sektor 5, Hwie pun berhasil menemui sang guru besar sejarah UI itu. Dia mendapatkan penjelasan panjang lebar. Tapi karena dilarang mencatat oleh Pram, Hwie hanya bisa menghafalnya.
"Singkat kata Pak Hwie itu kemudian kembali dengan menghafal. Dalam perjalanan dia gak bisa diajak ngomong, menghafal terus sehari kemudian," katanya.
Sesampainya kembali di gubuk, baru satu kalimat Hwie membuka mulut dan menyampaikan penjelasan si profesor, tentang kota kelahiran Tirto Adhi Soerjo di Bojonegoro, Pram langsung menyetopnya berbicara. Hwie pun kebingungan.
"Pak Pram bilang 'kamu hanya saya tugaskan untuk membuka kuncinya, yaitu [kota kelahiran Tirto Adhi Soerjo] Bojonegoro. Jadi kisah itu yang kemudian membuat bagaimana Oei Hiem Hwie bukan sekedar orang yang menyelamatkan dokumennya, tapi dia juga ikut membuka kunci sebuah karya besar," ujarnya.
Dalam sebuah wawancara 2017 silam, saya [penulis] pernah menemui Pak Hwie di Perpustakaan Medayu Agung yang dikelolanya. Saat itu Hwie pun bercerita soal upayanya menjaga naskah Tetralogi Pulau Buru yang asli ketikan Pram.
Di Pulau Buru, Hwie kerap membantu menyediakan kertas dan alat tulis untuk Pram. Yakni dengan menukarkan telur bebek hasil peternakan para tapol, dengan pensil dan kertas bungkus semen, secara sembunyi-sembunyi. "Pram biasanya ngijolno telur bebek sama petelot (pensil). Lha kertase pake kertas semen," kata Pak Hwie, dalam wawancara 2017 silam.
Hal itu dilakukan Hwie sebelum Orde Baru mendapatkan tekanan dunia internasional karena melarang Pram menulis. Setelah itu pada 1973, Pram pun mendapatkan dukungan dan diberi mesin tik. Termasuk oleh filsuf Prancis Jean-Paul Sartre. Meski alat itu diduga dikorupsi kroni Soeharto, dan tak pernah sampai ke tangan penulis kelahiran Blora, Jawa Tengah tersebut.
Pada 1978, Hwie dibebaskan dari pengasingan, Pram pun menitipkan naskah asli Tetralogi Pulau Buru kepadanya. Oleh Hwie novel-novel karya Pram itu disembunyikannya ke dalam besek atau keranjang kecil yang terbuat dari anyaman bambu, dan ditumpuk menggunakan pakaian kotor.
"Hwie, saya titip. Kamu harus berani. Harus berani!" ucap Hwie menirukan Pram. "Ternyata aku digeledah, tapi selamet. Lek gak gitu aku gak iso omong-omongan ambek kalian saiki, mati aku," celetuknya.
Setahun setelahnya, Hwie mendengar kabar bahwa Pram juga dipulangkan dari Pulau Buru. Ia pun bermaksud mengembalikan naskah milik Pram yang dititipkan kepadanya. Namun sang sastrawan itu melarangnya karena situasi masih berbahaya. "Jangan! Simpan saja, saya fotocopy saja. Jadi kalau dirampas, biar fotocopy yang dirampas" tutur Pram pada Hwie.
Hwie menjadi angkatan kedua yang bebas dari pengasingan, namun ia masih saja diawasi oleh aparat. Ia tak dapat bekerja karena KTP-nya bertuliskan eks tapol. Hingga akhirnya setelah Orde Baru runtuh, dia pun mendirikan perpustakaan Medayu Agung pada 2001. Naskah-naskah asli Pram dipajang di tempat khusus di dalamnya.
Marga Oei yang 'Murtad'
Hwie meninggalkan kita semua pada 3 September 2025. Di usianya yang hampir 90 tahun. kepergiannya pun menyisakan duka mendalam bagi keluarga, kolega dan dunia literasi di Indonesia.
Ikatan Kemanuasiaan untuk Korban Penghilangan Paksa Indonesia (Ikohi) pun terdorong untuk mengabadikan sosok Hwie melalui sebuah buku berjudul A Tribute to Oei Hiem Hwie: Marga Oei yang 'Murtad'.
Penulisan buku ini diinisiasi oleh Heru Krisdianto, salah satu perwakilan Ikohi. Dalam penjelasannya, Heru menuturkan ide penulisan buku ini muncul sesaat setelah kabar duka wafatnya Hwie. Keinginan untuk menghadirkan karya penghormatan membuat ia segera menghubungi keluarga dan sahabat dekat almarhum.
"Jadi saya mau ceritakan sedikit kenapa buku ini harus ditulis. Ini sebagai penghormatan untuk Pak Hwie. Ketika Pak Hwie meninggal tanggal 3 September 2025 yang lalu, saya tiba-tiba punya pikiran dan saya sampaikan kepada Pak Aris (Aris Prawira adik Hwie).
Terus saya sampaikan ke Adi (Adi Sandika anak Hwie] . Adi jawab juga oke. Sudah saya lanjutkan terus menghubungi kawan-kawan yang saya kenal dan mereka punya pengalaman yang luar biasa dengan Pak Hwie," kata Heru.
Heru juga menyebutkan sejumlah pihak yang berkontribusi dalam buku ini, mulai dari penulis dan akademisi sejarah lintas kota dan negara, hingga perwakilan keluarga Pramoedya Ananta Toer, mengingat hubungan erat antara Pram dan Hwie.
"Saya juga menghubungi cucunya Pak Pram, Mas Aditya Ananta toer. Alhamdulillah bersedia untuk menulis. Saya pikir harus ada perwakilan dari keluarga Pram untuk ikut menuliskan buku ini karena Pak Hwie punya sejarah yang kuat dengan Pram," ucapnya.
Selain para penulis, Heru menyoroti peran orang-orang di lingkungan Medayu—komunitas yang selama masa senja Hwie banyak membersamainya. Ia juga memberikan apresiasi kepada para mahasiswa yang berkontribusi dalam buku ini.
Total ada 30 penulis yang berkontribusi dalam buku A Tribute to Oei Hiem Hwie: Marga Oei yang 'Murtad'. Sebuah memoar penghormatan kepada Pak Hwie, penjaga ingatan dan sejarah yang diasingkan negara. "Soal bagaimana beliau (Hwie) memaknai bahwa Marga Oei yang 'Murtad' itu seperti apa mohon di beli bukunya," kata Kuncarsono, yang juga jadi salah satu penulis di buku ini.